Rabu, 25 November 2015

Bahan Ajar Jembatan Wien

Jembatan Wien tidak hanya sebagai jembatan arus bolak-balik guna mengukur frekuensi, tetapi juga untuk berbagai rangkaian bermanfaat lainnya. Sebagai contoh, sebuah jembatan Wien ditemukan dalam alat penganalisa distorsi harmonik (harmonic distortion Analyzer), jembatan wien digunakan sebagai saringan pencatat (notch filter) yang membedakan terhadap satu frekuensi tertentu. Pemakaian jembatan Wien juga terdapat di dalam osilator audio dan frekuensi tinggi (high frequency, HF) sebagai elemen pengukur frekuensi (frequency determining element).
 Jembatan Wien memiliki sebuah kombinasi seri RC dalam satu lengan dan sebuah kombinasi paralel RC dalam lengan di sebelahnya. ( Lihat Gambar )

Impedansi lengan 1 adalah Z1 = R1 – j/wC1. Admitansi lengan 3 adalah Y3 = 1/R3 +jwC3. Dengan menggunakan persamaan dasar untuk kesetimbangan jembatan dan memasukkan nilai-nilai yang tepat diperoleh:

R2 = ( R1 - ( j/wC1 ) ) R4 ( 1/R3 + jwC3 )

Dengan menguraikan bentuk ini diperoleh

R2 = R1R4/R3 + ( JwC3R1R4 ) - jR4/wC1R3 + R4C3/C1

Dengan menyamakan bagian-bagian nyata diperoleh

R2 = R1R4/R3 + R4C3/C1
yang berubah menjadi

R2/R4 = R1/R3 + C3/C1

Dengan menyamakan bagian-bagian khayal diperoleh

wC3R1R3 = R4/wC1R1

di mana w = 2pf, dan penyelesaian bagi f diperoleh

f  = 1 / 2p ( C1C3R1R3 )*1/2

Perhatikan bahwa kedua persyaratan bagi kesetimbangan jembatan sekarang menghasilkan sebuah persamaan yang menentukan perbandingan tahanan R2/R4 yang diperlukan, dan sebuah persamaan lain yang menentukan frekuensi tegangan yang dimasukkan. Dengan perkataan lain, jika kita memenuhi persamaan :

R2/R4 = R1/R3 = C3/C1

menghidupkan (mengeksitasi) jembatan dengan suatu frekuensi yang diberikan oleh persamaan

f  = 1 / 2p ( C1C3R1R3 )*1/2

Maka jembatan tersebut akan setimbang. Dalam kebanyakan rangkaian jembatan Wien, komponen-komponen dipilih sedemikian sehingga R1 = R3 dan C1 = C3. Ini menyederhanakan persamaan kesetimbangan menjadi R1/R4 = 2 dan persamaan frekwensinya menjadi

 f = 1/ 2pRC

Yang merupakan pernyataan umum bagi frekuensi jembatan Wien. Dalam sebuah jembatan praktis, kapasitor C1 dan C3 adalah kapasitor-kapasitor tetap, dan tahanan R1 dan R2 adalah tahanan variabel yang dikontrol oleh sebuah poros bersama. Dengan menetapkan bahwa sekarang R2 = 2R4, jembatan dapat digunakan sebagai alat pengukur frekuensi yang disetimbangkan oleh satu pengontrol tunggal. Pengontrol ini dapat dikalibrasi langsung dalam frekuensi.

Karena sensitivitas frekuensinya, jembatan Wien  sulit untuk dibuat setimbang (kecuali bentuk gelombang tegangan yang dimasukkan adalah sinus murni). Karena jembatan tidak setimbang untuk setiap harmonik yang terdapat di dalam tegangan yang dimasukkan, harmonik-harmonik ini kadang-kadang akan menghasilkan suatu tegangan keluar yang menutupi titik setimbang yang benar.
25 November 2015
Alfiansyah, Muhammad. 2009. Jembatan Wien. (online), (http://marommuhammad.blogspot.co.id/2010/05/prinsip-kerja-oscillator-wien-rangkaian.html), diakses pada tanggal 25 November 2015.

Selasa, 24 November 2015

Bahan ajar Strain Gauge


Strain Gage adalah komponen elektronika yang dipakai untuk mengukur tekanan (deformasi atau strain). Sensor strain gauge berbentuk foil logam atau kawat logam yang bersifat insulatif (isolasi) yang ditempel pada benda yang akan diukur tekanannya, dan tekanan berasal dari pembebanan. Prinsip kerda dari sensor strain gauge adalah jika tekanan pada suatu benda berubah, maka foil atau kawat akan terdeformasi, dan tahanan listrik alat ini juga akan berubah. Perubahan tahanan listrik ini akan dimasukkan kedalam rangkaian jembatan Wheatstone yang kemudian akan diketahui berapa besar tahanan pada sensor Strain Gauge. Tegangan keluaran dari jembatan Wheatstone merupakan sebuah ukuran regangan yang terjadi akibat tekanan dari setiap elemen pengindera dari sensor Strain Gauge. Maka, tekanan tersebut kemudian dihubungkan dengan regangan sesuai dengan hukum Hook yang berbunyi : Modulus elastis adalah rasio tekanan dan regangan. Dengan demikian jika modulus elastis adalah sebuah permukaan benda dan regangan telah diketahui, maka tekanan bisa ditentukan”. Hukum Hook dituliskan sebagai :
dimana :

σ = regangan, Δl/l (tanpa satuan),
s = tegangan geser (kg/cm2), dan
E = modulus Young , kg/cm2.
Bila dua sensor strain gauge atau lebih digunakan, maka tekanan pada pelacakan arah setiap sensor strain gauge bisa ditentukan dengan menggunakan perhitungan. Namun demikian persamaannya memiliki tingkat kompleksitas yang berbeda tergantung pada kombinasi dan orientasi gage tersebut. Kepekaan sebuah sensor Strain Gauge disebut dengan faktor gauge dan perbandingan antara unit resistansi dengan perubahan unit panjang diperoleh persamaan sebagai berikut :
Faktor Gauge
dimana :
K = Faktor gauge
ΔR = Perubahan tahanan gauge
Δl = Perubahan panjang bahan
R = Tahanan gage nominal, dan
l = Panjang normal bahan.
Jadi regangan diartikan sebagai perbandingan tanpa dimensi, perkalian unit yang sama, misalnya mikroinci / inci atau secara umum dalam persen (untuk deformasi yang besar) atau yang paling umum lagi dalam mikrostrain.
Perubahan tahanan ΔR pada sebuah konduktor yang panjangnya l dapat dihitung dengan menggunakan persamaan bagi tahanan dari sebuah konduktor yang penampangnya serba sama, yaitu :
dimana :          
 ρ = tahanan spesifik dari bahan konduktor
 l = panjang konduktor, dan
d = diameter konduktor
Karakteristik dari filamen adalah sebagai berikut :
1)                  Faktor Gage tertinggi.
2)                  Koefisien suhu resistansi rendah.
3)                  Resitivitas tinggi
4)                  Kekuatan mekanis tinggi, dan
5)                  Potensial termo listrik minimum disekitar lead.
Prinsip Kerja Strain Gauge
Ketika terjadi regangan pada suatu benda uji (specimen) yang telah di pasangi strain gauge, maka regangan itu terhantarkan melalui alas gauge (isolatif) pada foil atau penghantar resistif di dalam gauge tersebut. Hasilnya adalah foil atau penghantar halus tadi akan mengalami perubahan nilai resistansinya. Perubahan resistansi ini berbanding lurus terhadap besarnya regangan.

Senin, 23 November 2015

Bahan Ajar Elektronika Analog Penguat Kelas A



Penguat kelas A adalah penguat yang titik kerja efektifnya setengah dari tagangan VCC penguat. Untuk bekerja penguat kelas A memerlukan bias awal yang menyebabkan penguat dalam kondisi siap untuk menerima sinyal. Karena hal ini maka penguat kelas A menjadi penguat dengan efisiensi terendah namun dengan tingkat distorsi (cacat sinyal) terkecil.
Contoh dari penguat kelas A adalah rangkaian dasar penguat transistor common emitor (CE). Tipe penguat dibuat dengan mengatur arus bias basis yang sesuai pada titik tertentu untuk mendapatkan titik kerja pada garis beban rangkaian tersebut. Untuk penguat tipe kelas A arus bias basis dibuat sedemikian rupa, sehingga titik kerja transistor (Q) berada tepat ditengah kurva garis beban VCE – IC dari rangkaian penguat tersebut. Contoh rangkaian dasar penguat transistor tipe kelas A dapat dilihat pada gambar berikut.
Resistor Ra dan Rb pada rangkaian diatas berfungsi untuk menentukan arus bias basis. Garis beban rangkaian dasar penguat tipe kelas A diatas ditentukan oleh konfigurasi resistor Rc dan Re yang dirumuskan sebagai berikut : 

 Vcc = Vce + IcRc + IeRe

Apabila Ic = Ie, maka rumus diatas dapat di sederhanakan seperti berikut :

Vcc = Vce + Ic(Rc + Re)
Untuk menentukan arus basis sebaiknya melihat dahulu datasheet transistor yang digunakan kemudian menentukan nilai resistor Ra dan Rb untuk menentukan besarnya arus basis (Ib) yang memotong titik Q. Berikut adalah garis beban dan titik Q penguat kelas A.



Besar penguatan sinyal AC dapat dihitung dengan teori analisa rangkaian sinyal AC. Analisa rangkaian AC adalah dengan menghubung singkat setiap komponen kapasitor C dan secara imajiner menyambungkan VCC ke ground. Resistor Ra dan Rc dihubungkan ke ground dan semua kapasitor dihubung singkat.Dengan cara ini rangkaian gambar analisa AC dapat dirangkai menjadi seperti gambar berikut.



Vout / Vin = rc/re'

jadi, diperoleh persamaan rumus Vout sebagai berikut :

Vout = (rc/re').Vin 

Ciri khas dari penguat kelas A adalah, seluruh sinyal output bekerja pada daerah aktif. Penguat tipe class A disebut sebagai penguat yang memiliki tingkat fidelitas yang tinggi. Selama sinyal masih bekerja di daerah aktif, bentuk sinyal keluarannya akan sama persis dengan sinyal input. Namun penguat kelas A ini memiliki efisiensi yang rendah kira-kira hanya 25% – 50%. Kondisi ini karena titik Q yang ada pada titik A, sehingga dalam kondisi tidak ada sinyal input (atau ketika sinyal input = 0 Vac) transistor tetap bekerja pada daerah aktif dengan arus bias konstan. Transistor selalu aktif (ON) sehingga sebagian besar dari sumber catu daya terbuang menjadi panas. Karena ini juga transistor penguat kelas A perlu ditambah dengan pendingin ekstra seperti heatsink yang lebih besar.

23 November 2015
Arhild, 2012. Penguat Kelas A. (online), (https://arhild.wordpress.com/2012/01/07/penguat-kelas-a/), diakses pada tanggal 21 November 2015 pukul 20.05 WIB
Dasar, Elektronika, 2013. Penguat Amplifier Kelas A. (online), (http://elektronika-dasar.web.id/penguat-amplifier-kelas-a/), diakses pada tanggal 21 November 2015 pukul 19.56 WIB



Jumat, 13 November 2015

Artikel Ilmiah Penarangan Lampu Taman Otomatis meggunakan Sensor LDR



PENERANGAN LAMPU TAMAN OTOMATIS MENGGUNAKAN SENSOR LDR

1.       PENDAHULUAN
Pada bagian ini dijabarkan secara spesifik mengenai (1) latar belakang pemilihan judul dan (2) fokus pembahasan. Kedua hal tersebut dijabarkan melalui sub-subbab berikut ini.
1.1   Latar Belakang
Lampu taman merupakan alat yang digunakan untuk menerangi suatu tempat yang membutuhkan sebuah penerangan. Pada siang hari, lampu taman tidak akan diperlukan untuk menerangi suatu tempat, karena  secara otomatis suatu tempat akan mampu memanfaatkan sinar matahari, sehingga akan menyebabkan tempat tersebut  menjadi terang karena adanya sebuah intensitas cahaya. Namun, pada waktu malam hari, lampu taman akan berfungsi untuk memberikan cahaya disaat kondisi yang gelap, karena intensitas cahaya sinar matahari sudah tidak dapat dimanfaatkan untuk malam hari, maka dibutuhkan suatu penerangan melalui lampu taman. Karena manusia akan terus ketergantungan dengan penggunaan lampu, maka akan terjadi pemborosan energi listrik pada setiap waktu.
Menurut Data ASEAN Centre for Energy (ACE) tahun 2013, tercatat bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat pemborosan energi listrik paling tinggi. Tercatat  9 kota yang dianggap paling boros dalam penggunaan listrik, seperti Jakarta, Medan, Makasar, Bali, Batam, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, dan Palembang. Rata-rata listrik banyak digunakan untuk keperluan industri. Di negara lain, penggunaan energi untuk industri sudah mampu untuk ditanggulangi, hanya 20% aktivitas industrial menggunakan listrik, sedangkan sisanya telah menggunakan energi alam (energi panas matahari, energi alam seperti gas, dan lain-lain).
Dalam mengonsumsi energi listrik, sebenarnya Indonesia hanya mengonsumsi 0.467 toe per kapita (berbeda dengan Jepang yang mengonsumsi hingga 4.14 toe per kapita). Meski demikian, intensitas energi Indonesia mencapai 470 toe perjuta dollar AS PBD, jauh di atas Jepang yang hanya 92.3 toe per juta dollar AS PDB. Akibatnya pemakaian energi Indonesia adalah 1.84, jauh di atas negara-negara Asia seperti Jepang ,Malaysia, maupun Thailand. Kompasiana.com, 25 November 2014.
Dengan penggunaan lampu taman secara manual, akan meningkatkan tingkat pemborosan energi listrik melebihi sebelumnya. Hal ini terjadi karena kelalaian manusia terhadap penggunaan lampu taman yang setiap harinya lupa untuk mematikan saklar hingga saat pagi hari, sehingga lampu akan selalu dalam keadaan hidup (ON). Dan kemalasan manusia untuk menyalakan saklar lmpu taman akan mengakibatkan area taman menjadi gelap dan tidak ada pengunjung yang akan memasuki area tersebut karena dalam kondisi gelap atau bahkan dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Untuk menghindari hal tersebut, maka dibutuhkan sebuah solusi alternative dalam memecahkan permasalahan kelalaian manusia terhadap penggunaan lampu taman secara manual. Solusi tersebut yaitu memanfaatkan sensor LDR. Dengan adanya sensor LDR maka lampu taman akan menyala (ON) dan mati (OFF) secara otomatis tanpa harus menggunakan tenaga manusia, sehingga dapat menghindari pemborosan energi listrik yang terjadi selama ini. Dalam makalah ini dijabarkan secara spesifik mengenai Penerangan Lampu Taman Otomatis menggunakan Sensor LDR.
1.2 FOKUS PEMBAHASAN
1) Konsep dasar sensor LDR;
2)  Langkah-langkah perancangan alat pemerangan lampu otomatis; dan
3)  Kelebihan dan kekurangan sensor LDR.
2.       PEMBAHASAN
Beberapa informasi yang disajikan pada bagian ini meliputi: (1) konsep dasar sensor LDR; (2) langkah-langkah perancangan alat penerangan lampu taman secara otomatis; (3) kelebihan dan kekurangan sensor LDR.
Energi listrik sebagai teknologi mukhtahir sterilisasi susu sapi. Empat informasi tersebut dijabarkan secara rinci melalui sub-sub bagian berikut.
2.1  Konsep Dasar Sensor LDR (Light Dependent Resistor)
LDR (Light Dependent Resistor adalah komponen elekronika yang dijadikan sebagai sensor dalam pembuatan lampu otomatis. LDR merupakan salah satu jenis resistor yang nilai hambatannya dipengaruhi oleh sejumlah intensitas cahaya. Besarnya nilai hambatan pada LDR tergantung pada besar kecilnya intensitas cahaya yang diterima oleh LDR. Contoh penggunaannya adalah pada lampu taman hanya bisa menyala di malam hari dan akan padam di siang hari secara otomatis. (Jurnal Unikom : 175)
Prinsip kerja dari Sensor LDR yaitu pada saat kondisi gelap atau cahaya redup, bahan dari cakram tersebut menghasilkan elektron bebas dengan jumlah yang relative kecil. Sehingga hanya ada sedikit elektron untuk mengangkut muatan elektrit. Artinya pada saat cahaya barada pada kondisi redup, LDR menjadi konduktor yang buruk, atau bisa disebut juga LDR memiliki resistansi yang besar pada saat gelap atau cahaya redup. Sedangkan, pada saat cahaya terang, ada lebih banyak elektron yang lepas dari atom bahan semikonduktor tersebut. Sehingga akan lebih banyak elektron untuk mengangkut muatan elektrit. Artinya pada saat cahaya terang, LDR menjadi konduktor yang baik, atau bisa disebut juga LDR memiliki resistansi kecil pada saat cahaya terang. (Jurnal Stikom Surabaya : 10).
1)      Bentuk
Bentuk solusi alternative yang akan digunakan untuk memecahkan permasalahan yang terjadi yaitu dengan menggunakan sebuah Sensor LDR (Light Dependent Resistor) pada penerangan lampu taman otomatis. Sensor ini akan diletakkan pada penerangan lampu taman dengan tujuan agar  lampu yang menyala (ON) dan mati (OFF) akan bekerja secara otomatis tanpa menggunakan tenaga manusia. Dengan memanfaatkan sensor tersebut, penggunaan energi listrik semakin hemat dan tidak perlu membuang energi manusia. Apabila menggunakan penerangan lampu taman secara manual maka tidak akan efisien dan sangat merugikan. Terkadang manusia akan melakukan kelalaian dalam kondisi apapun, misalnya untuk menyalakan (ON) dan mematikan (OFF) lampu penerangan pun masih terjadi kelalaian, sehingga secara tidak langsung akan menyebabkan pemborosan listrik dan membuang energi manusia secara perlahan.
2)      Sasaran
Rancangan alat dengan menggunakan sebuah Sensor LDR akan ditunjukkan pada  tempat-tempat taman yang berada di sekitar. Dengan adanya sensor tersebut akan membuat area taman menjadi terang dan menarik seseorang untuk berkunjung ke tampat tersebut. Biasanya sebuah taman akan gelap pada kondisi malam hari karena kelalaian manusia untuk menyalakan (ON) lampu taman secara manual, sehingga banyak orang yang tidak ingin berkunjung di area tersebut atau bahkan dalam kondisi tersebut akan dimanfaatkan beberapa orang untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak diinginkan, lambat laun menyebabkan area taman tersebut menjadi tempat yang berbahaya.
2.1   Langkah –Langkah Perancangan Alat
a)      Persiapan
Setelah merencanakan sebuah alat yang akan digunakan sebagai pengganti penerangan lampu taman secara manual, langkah awal dengan mencoba membuat rangkaian dengan menggunakan simulasi. Dengan adanya simulasi, dapat mengetahui alat yang dirancang sebelumnya apakah bisa berjalan atau sebaliknya.
Menyiapkan lahan dan tempat yang akan dijadikan sebgai suatu lokasi dalam perancangan sebuah rangkaian serta segala sesuatu yang akan dibutuhkan dan digunakan untuk pembuatan rangkaian penerangan lampu taman secara otomatis. Alat dan bahan yang digunakan dapat berupa sensor LDR, Relay, Transistor, Potensiometer, dan Resistor.
b)      Pelaksanaan
Setelah semua komponen-komponen yang dibutuhkan lengkap, langkah selanjutnya melakukan perakitan rangkaian, dengan memasang komponen-komponen untuk penerangan lampu taman secara otomatis misalnya dengan memasang relay, sensor LDR, Transistor, Potensiometer, dan Resistor ke dalam sebuah rangkaian berdasarkan dengan hasil simulasi yang dirancang sebelumnya.
Melakukan proses penyambungan pada suatu lokasi area taman tertentu, agar pada saat pengujian alat, tidak perlu memasang secara mendadak, karena rangkaian tersebut telah disambungkan sebelumnya pada tiang-tiang lampu area suatu taman yang ada disekitar.
c)       Evaluasi
Melakukan pengujian terhadap alat yang terlah dirancang sebelumnya apakah sesuai dengan tujuan pembuatan alat sebagai penerangan lampu taman secara otomatis. Alat tersebut akan di uji coba di area-area taman tertentu apakah sesuai dengan perancangan sebelumnya. Hasil yang diperoleh dari uji coba alat akan menunjukan perbedaan antara penerangan lampu taman secara manual dengan penerangan lampu taman secara otomatis.
Dengan uji coba yang dilakukan tentu ada kekurangan dari pengujian alat tersebut. Untuk itu, rancangan alat perlu disempurnakan sebelum dipasang pada area-area taman yang ada disekitar.
2.3. Kelebihan dan Kekurangan Sensor LDR (Light Dependent Resistor)
Dengan memanfaatkan sensor LDR tersebut, tentunya terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan di dalam penggunannya. Banyak orang di dunia ini terlalu sibuk untuk mengurusi masalah-masalah sepele seperti mematikan lampu di pagi hari. Lampu yang dapat menyala sendiri  pada malam hari dan padam sendiri pada pagi hari sangat memudahkan orang-orang sibuk dengan rutinitas sehari-hari dalam mengontrol lampu. Dengan teknologi ini, tagihan listrik dapat dikontrol sehingga efektif dan efisien. Upaya untuk menghemat energi untuk kepentingan bersama dapat terwujud karena tidak ada pemborosan listrik saat lupa memadamkan lampu. Teknologi lampu ini sangat mudah digunakan sesuai dengan cara kerjanya yang otomatis.
Lampu sensor cahaya lebih mudah digunakan karena pemilik tidak perlu mengatur waktu agar lampu dapat menyala atau padam otomatis. Dengan sensor LDR tersebut lampu akan otomatis menyala (ON) dan mati (OFF) secara otomatis tanpa membuang energy manusia. Itu semua tergantung pada seberapa banyak intensitas yang diterimanya. Apalagi sensor LDR ini dalam penggunaannya sangat simple dan efisien.
Dari segi perawatan, alat sensor LDR tidak memerlukan perawatan khusus karena terbuat dari komponen sederhana berupa  switching electronic yang  banyak terdapat di toko-toko perlengkapan elektronik. Pemilik hanya harus mencegah agar lempengan komponen lampu tidak terkena air. Hal ini dapat diatasi dengan memasang kotak pelindung pada lempengan. Jenis lampu yang dapat digunakan juga terserah pada pengguna. Kinerja alat sensor tidak akan mempengaruhi keawetan lampu itu sendiri. Apabila lampu yang digunakan  berkualitas baik, maka lampu dapat bertahan lama.
Namun LDR memiliki kekurangan, yaitu tidak dapat mendeteksi cahaya dengan tingkat intensitas yang rendah sehingga mungkin tidak dapat bekerja pada beberapa kondisi. Kekurangan lainnya adalah LDR termasuk sonsor cahaya yang bersifat lambat dalam mendeteksi cahaya pada kondisi peralihan tingkat intensitas cahaya yang berbeda, membutuhkan hingga beberapa detik respon waktu untuk mengenali perbedaan intensitas. Hal tersebut dikarenakan elektron pada LDR membutuhkan waktu untuk bergerak saat berpindah, baik gerakan mempercepat ataupun memperlambat.
PENUTUP
3.1          Simpulan
Lampu taman merupakan alat yang digunakan untuk menerangi suatu tempat yang membutuhkan sebuah penerangan. Dengan penggunaan lampu taman secara manual, akan meningkatkan tingkat pemborosan energi listrik melebihi sebelumnya. Hal ini terjadi karena kelalaian manusia terhadap penggunaan lampu taman yang setiap harinya lupa untuk mematikan saklar hingga saat pagi hari, sehingga lampu akan selalu dalam keadaan hidup (ON). Dan kemalasan manusia untuk menyalakan saklar lmpu taman akan mengakibatkan area taman menjadi gelap dan tidak ada pengunjung yang akan memasuki area tersebut karena dalam kondisi gelap atau bahkan dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Tujuan dari penerangan lampu taman otomatis menggunakan sensor LDR yaitu agar memudahkan setiap orang pada saat menyalakan (ON) dan mematikan (OFF) saklar secara otomatis.
Tahap awal dari penerangan lampu taman secara otomatis menggunakan sensor LDR antara lain : (1) pembuatan simulasi; dan (2) penyiapan alat, bahan, dan tempat yang strategis. Tahap inti dari penerangan lampu taman secara otomatis antara lain : (1) melakukan perakitan rangkaian; dan (2) proses penyambungan rangkaian sensor LDR. Dan tahap tahap akhir dari penerangan lampu taman secara otomatis antara lain : (1) melakukan uji coba alat; dan (2) penyempurnaan alat. 
Kelebihan sensor LDR antara lain: (1)  Lampu sensor cahaya lebih mudah digunakan; dan (2) alat sensor LDR tidak memerlukan perawatan khusus karena terbuat dari komponen sederhana berupa  switching electronic, sedangkan kekurangan dari sensor LDR yaitu tidak dapat mendeteksi cahaya dengan tingkat intensitas yang rendah.

3.2          Saran
Makalah Penarangan Lampu Taman Otomatis menggunakan Sensor LDR ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk utuk kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi menyempurnakan makalah ini.


DAFTAR RUJUKAN

Chandra, Mulyady. 2014. 10 Peringkat Indonesia di Dunia. (online) , (http://www.kompasiana.com/mulyady1688/10-peringkat-indonesia-di-dunia_54f934b0a333112c048b4a1a), diakses pada tanggal 12 September 2015.
Nurfatimah, Dwi. 2013. Lampu Otomatis dengan Sensor LDR. (online), (www.academia.edu/7356106/lampu_otomatis_dengan_sensor_LDR), diakses pada tanggal 9 November 2015.
Sinaga, Sahrul. 2014. LDR (Light Dependent Resistor). (online), (https://www.scribd.com/doc/249657712/BAB-20III-pdf), diakses pada tanggal 9 November 2015.
Supatmi, Sri (2014:175). Pengaruh Sensor LDR terhadap Pengontrolan Lampu. (online), (https://www.yumpu.com/id/document/view/28070879/download-volume-82-artikel-5pdf-majalah-ilmiah-unikom), diakses pada tanggal 9 November 2015.
 
November 13, 2015